This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, July 2, 2026

  Gardu Ronda: Saksi Perdebatan Malam

Gardu Ronda: Saksi Perdebatan Malam yang Hangat

Udara malam di desa kami bergetar dengan irama jangkrik yang akrab dan gumaman percakapan yang rendah. Di jantung segalanya, gardu ronda sederhana kami, pos pengawasan lingkungan, lebih dari sekadar tempat pengintaian; itu adalah balai kota tidak resmi, panggung untuk debat larut malam, dan suaka persahabatan selama tugas jaga kami. Malam ini, bagaimanapun, ketenangan yang biasa diselingi oleh diskusi yang bersemangat, meskipun agak absurd, yang telah menjerat dua penjaga kami yang paling bersemangat.

Adegan telah diatur. Hoki dan Mudi, dua teman yang pendapatnya, meskipun sering berbeda, selalu disampaikan dengan kedipan mata, terkunci dalam perdebatan sengit. Topiknya? Misteri "Hutan Larangan" yang membentang di tepi wilayah kami, hingga ke ujung pulau. Argumen mereka, meskipun santai, sekokoh pohon beringin kuno yang menghiasi lanskap kami. Masing-masing yakin bahwa interpretasi mereka tentang misteri hutan adalah kebenaran mutlak.

Tepat saat ketegangan memuncak, Zul tiba, anggota ketiga dari tugas jaga bergiliran kami. Kedatangannya membawa gelombang kebingungan baru saat ia menemukan Hoki dan Mudi sudah tenggelam dalam perselisihan penuh semangat mereka. Keduanya, tampaknya, berlomba-lomba untuk mendapatkan persetujuannya, masing-masing ingin memenangkannya ke pihak mereka.

Hoki, seorang pria yang imajinasinya seringkali melampaui kenyataan, dengan tegas percaya bahwa Hutan Larangan dipenuhi dengan penghuni spektral. "Hantu, Mudi! Jelas hantu!" ia bersikeras, suaranya diliputi keyakinan yang mendekati pengalaman langsung, meskipun matanya tidak menunjukkan hal seperti itu. Ia melukiskan gambaran yang jelas tentang sosok bayangan dan bisikan menyeramkan yang pasti menjaga kedalaman hutan.

Mudi, di sisi lain, adalah seorang pragmatis yang menyukai harta karun. Ia mencemooh teori hantu Hoki. "Omong kosong, Hoki! Bukan hantu, tapi harta karun!" balasnya, suaranya bergema dengan sensasi kekayaan potensial. Mudi yakin hutan itu dilindungi bukan oleh roh, tetapi oleh tumpukan kekayaan tersembunyi, yang sengaja disembunyikan dan dijaga oleh mereka yang mengetahui rahasianya. Ia berpendapat bahwa alasan hutan itu tetap tak tersentuh adalah karena nilai sejatinya – harta karunnya yang tersembunyi – sedang dilestarikan.

Terjebak di tengah baku tembak, Zul ditugaskan dengan pekerjaan yang tidak menyenangkan untuk memilih pihak. Tetapi bahkan sebelum ia sempat merumuskan jawaban, ia mengajukan pertanyaan sederhana namun krusial: "Apakah kalian berdua pernah melihat sesuatu di sana?"

Hening sejenak. Kemudian, dengan malu-malu, baik Hoki maupun Mudi mengakui bahwa mereka belum pernah. Mereka belum pernah menjelajah cukup jauh ke dalam Hutan Larangan untuk mengkonfirmasi teori mereka.

Di sinilah Zen, ahli bahasa dan ahli dalam meredakan ketegangan, benar-benar bersinar. Ia tidak memihak, juga tidak menolak keyakinan mereka. Sebaliknya, dengan kecerdasan khasnya dan seringai jahil, Zen dengan terampil mengalihkan percakapan. Ia menawarkan serangkaian pengamatan ringan dan sindiran jenaka, menenun permadani humor yang melarutkan keseriusan yang tersisa. Komentarnya yang cerdas membuat Hoki dan Mudi tertawa, perdebatan sengit mereka lenyap seperti kabut di bawah sinar matahari pagi. Percakapan itu, yang pernah berada di ambang pertengkaran besar, dengan lancar beralih ke pertukaran yang lebih santai, misteri Hutan Larangan sesaat dilupakan dalam tawa bersama.

Dan begitulah, gardu ronda melanjutkan tugasnya, menjadi saksi bisu dari narasi desa kami yang terus berkembang. Ini adalah tempat di mana hal biasa bertemu dengan mitos, di mana perselisihan persahabatan menyala, dan di mana kebijaksanaan pengalaman, atau kekurangannya, ditantang dengan jenaka. Malam ini, Hutan Larangan tetap menjadi alam spekulasi, rahasianya aman untuk saat ini, dibayangi oleh semangat persahabatan yang abadi dan kegembiraan sederhana dari jaga bersama di bawah langit berbintang. Legenda hantu dan harta karun pasti akan muncul kembali, tetapi untuk malam ini, cerita yang paling memikat adalah cerita yang terungkap di sini, dalam pelukan hangat pos penjagaan kami.

 

Sunday, August 17, 2025

Mantu Time Travel

 

  • Halaman 1

Matahari sudah hampir terbenam, menyisakan semburat jingga keemasan di cakrawala Jakarta. Di teras belakang sebuah penthouse mewah, seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah, Pak Haris, duduk santai sambil menyesap kopi hangatnya. Pakaiannya sederhana, hanya kaus polo dan celana kain, jauh dari kesan formal seorang komisaris utama. Di hadapannya, Pak Budi, direktur andalannya, terlihat lebih tegang meski sudah mencoba rileks. Kemejanya yang rapi masih terlihat sedikit kusut, sisa hari yang panjang.

"Budi... santai saja," ucap Pak Haris sambil tersenyum. "Anggap saja ini bukan di kantor. Saya hanya ingin tahu, bagaimana ide menantu saya? Si Rendi?"

Ekspresi Pak Budi langsung berubah. Ia menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil cangkir kopi, lalu menatap Pak Haris dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada sedikit kehati-hatian, sedikit keengganan, dan banyak rasa tidak enak.

"Rendi... dia memang anak yang cerdas," lanjut Pak Haris. "Saya lihat sendiri bagaimana ia merancang ruang kerja saya, teliti sampai detail terkecil. Perhitungannya juga matang. Bahkan, dia bisa membuat desain mobil mainan yang rumit untuk cucu saya. Otaknya encer."

Pak Budi hanya mengangguk pelan. Pandangannya kosong, menatap hamparan gedung pencakar langit di bawah sana.

"Nah, ide yang ia sampaikan ke kamu itu... saya tertarik. Dia bilang itu ide brilian. Katanya bisa jadi produk revolusioner," Pak Haris melanjutkan dengan antusias. "Dia bilang sudah riset pasar, sudah hitung biaya produksi, bahkan sudah kontak beberapa pabrik. Katanya, kalau kamu pegang, pasti sukses besar."

Pak Budi masih diam. Keheningan itu membuat Pak Haris sedikit heran. Biasanya, Pak Budi akan langsung menyambut dengan semangat, atau paling tidak, merespons dengan analisis cepat seperti yang selalu ia lakukan.

"Budi?" tegur Pak Haris.

Pak Budi mengangkat tangannya, telapak tangannya terbuka, isyarat untuk menghentikan pembicaraan. "Maaf, Pak Haris," suaranya pelan dan ragu. "Saya sudah langsung tolak."

Pak Haris tertegun. Cangkir kopinya hampir terjatuh. "Tolak? Kenapa? Kamu belum lihat detailnya? Rendi sudah jelaskan?"

"Sudah, Pak. Dia jelaskan dengan sangat rinci. Bahkan ia kirimkan presentasi tebal. Tapi saya tidak butuh waktu lama untuk langsung menolaknya."

Pak Haris mengerutkan dahi. "Tapi kenapa? Dia bilang... ini produk masa depan. Bisa jadi terobosan. Saya percaya insting dia."

"Justru itu, Pak," jawab Pak Budi, akhirnya berani menatap mata Pak Haris. "Secanggih apa pun mesin produksinya, bahkan jika ia bisa dapat harga paling murah..."


  • Halaman 2

"Lalu?" potong Pak Haris, tidak sabar. "Apa masalahnya? Apa produknya tidak menarik? Modelnya jelek? Apa hitungannya tidak masuk akal?"

Pak Budi menggelengkan kepala. "Bukan, Pak. Bukan itu masalahnya." Ia mengambil napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Masalahnya, yang diproduksi tidak akan ada peminat, apalagi pembeli. Ini hanya akan jadi tumpukan besi dan plastik di gudang kita."

Pak Haris terdiam. Ia menatap Pak Budi, mencoba membaca kebohongan atau candaan di wajah direktur kepercayaannya itu. Tidak ada. Wajah Pak Budi serius, bahkan terlihat sedikit putus asa.

"Tapi kenapa, Budi? Katanya ide ini revolusioner! Apa produknya?"

"Dia mengajukan usul... produksi mesin ketik manual, Pak."

Hening.

Hanya suara jangkrik dan gemericik air dari kolam di teras yang memecah keheningan. Pak Haris menatap Pak Budi, bibirnya sedikit terbuka, matanya melebar. Ia tidak bisa berkata-kata. Rasanya seperti ada petir yang menyambar di depannya.

"Mesin ketik?" akhirnya Pak Haris bisa bersuara, nadanya incredulous. "Maksud kamu... mesin ketik yang pakai pita karbon? Yang bunyinya ting! saat ganti baris?"

Pak Budi mengangguk. "Betul, Pak. Yang seperti itu."

"Tapi... tapi itu kan barang kuno, Budi! Sekarang orang sudah pakai laptop, tablet, bahkan menulis di smartphone! Siapa yang mau beli mesin ketik?"

"Justru itu yang saya sampaikan ke Rendi, Pak. Tapi dia punya argumen sendiri. Katanya, mesin ketik ini akan menjadi barang seni. Sebuah artefak. Ia ingin menjualnya sebagai benda koleksi, bukan sebagai alat kerja."

"Barang seni? Benda koleksi?" tanya Pak Haris, tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar dan hampa. "Memang dia mau jual berapa? Satu unitnya seratus juta?"

"Dia bilang... dia tidak melihatnya sebagai benda koleksi biasa, Pak," jelas Pak Budi. "Ia ingin membuatnya dengan desain yang sangat modern, minimalis. Bahan yang digunakan juga premium, dari stainless steel pilihan dan kayu jati. Bahkan, ia ingin bekerja sama dengan beberapa seniman untuk desain casing-nya."

Pak Haris menggelengkan kepala. "Saya tidak mengerti jalan pikirnya, Budi. Saya memang akui dia jenius. Tapi... ini bukan jenius, ini konyol. Dia mau berinvestasi jutaan dolar untuk... mesin ketik?"


  • Halaman 3

"Saya juga sama, Pak," ucap Pak Budi, kini nada suaranya lebih santai. "Saya tidak ingin Bapak terjebak. Ide memang harus didukung, apalagi dari keluarga. Tapi... kita bicara bisnis, Pak. Kita bicara profit. Risikonya terlalu besar."

"Jadi kamu tolak mentah-mentah?"

"Iya, Pak. Saya bilang, saya tidak bisa. Saya tidak bisa pertanggungjawabkan jika nanti proyek ini gagal. Bapak juga pasti tidak mau, kan, melihat perusahaan rugi karena ide yang... maaf, Pak, tidak masuk akal?"

Pak Haris menghela napas panjang. Ia mengambil cangkir kopinya, menyesapnya perlahan. Ia tidak marah, lebih kebingungan. Ia tahu Budi adalah orang yang jujur dan logis. Keputusan Budi pasti didasarkan pada perhitungan matang.

"Darimana dia dapat ide itu, Budi?" tanya Pak Haris, suaranya sudah kembali normal. "Apa dia sedang baca buku sejarah?"

"Dia bilang... dari film, Pak. Katanya ada beberapa film Hollywood yang menampilkan mesin ketik sebagai simbol keabadian tulisan. Dan dia melihat peluang itu. Dia ingin membangkitkan nostalgia, dan menjualnya sebagai produk gaya hidup."

"Gaya hidup? Siapa yang mau gaya hidupnya seperti tahun 70-an, Budi?" Pak Haris tertawa lagi, kali ini tawa yang lebih lepas. Tawa yang penuh rasa takjub sekaligus geli.

"Dia berpikir ada pasarnya, Pak. Untuk kolektor, untuk orang-orang yang ingin barang unik, untuk blogger atau penulis yang ingin mencari sensasi berbeda."

"Ah... entah lah, Budi," kata Pak Haris, ia meletakkan cangkir kopinya. Ia menatap langit malam yang sudah bertabur bintang. "Saya akui, anak itu memang punya imajinasi yang luar biasa. Sayangnya... imajinasinya terlalu jauh."

Pak Haris menepuk bahu Pak Budi. "Terima kasih, Budi. Kamu sudah berani jujur. Saya hargai itu. Saya tidak ingin ide menantu saya membutakan saya. Kita kembali ke proyek yang realistis saja, ya."

"Tentu, Pak," jawab Pak Budi, lega.

Malam itu, obrolan mereka berlanjut, bukan lagi tentang mesin ketik, melainkan tentang proyek-proyek bisnis yang lebih menjanjikan. Tapi di benak Pak Haris, ia tidak bisa berhenti memikirkan menantunya. Si jenius yang ingin menjual mesin ketik di zaman digital. Pak Haris tidak tahu harus bangga atau khawatir. Yang jelas, satu hal yang pasti, ia punya menantu yang sangat, sangat unik.

Sunday, May 18, 2025

Tengah tengah: Amanat Apaan?

Tengah tengah: Amanat Apaan?: dalam putaran malam tanpa sempat menyandarkan  === Dipenuhi ujaran keharuan  Siapa lagi yang akan mengingkar  Bahwa datangnya pagi di bumi k...

Friday, October 11, 2024

Anggap Lewat Sendiri

 

Patuh telah melahirkan kepatuhan: Istilah dipakai mereka yang didudukan di depan memberikan sebuah pandangan yang konon diberi nama pandangan umum dalam bahasa asing yang berarti, timbal baliknya jawab dijadikan drama semata tidak lebih sebagai jalan setapak, jalan yang dibuat hingga muncul legitimasi, sering pada masanya digunakan tanpa perintah langsung apalagi kejelasan, pendengar langsung dalam satu gedung atau yang jauh dalam kesibukan lain dalam taman bergaya seolah telah paham semua pembicaraan yang telah mengalirkan pandangan modern, seolah ada kejut senjata pamungkas diarahkan membuat terhentinya langkah mengeja maunya kemana arah diminta.... keterpaksaan mungkin yang dinampakkan meskipun dibalik semua itu ada pula penyebut gerak kesetiaan, perintah tidak pula selalu menimbul gertak, namun keraguan terkadang membuat ketidak mampuan memilih jadi kemunculannya.... seperti halnya satu penambahan yang membendakan bentuk yang harusnya ciri dari sebuah obyek nyata... perlahan dan terdiam lalu gerak perlahan lagi..

Alihkan léwati kering: Jalan selalu membuat cerita baru, bukan cuma tol mulus, yang berbatu, berlumpur hingga jalan setapak yang jarang dilewati pun telah ditanam oleh kepala berkingintahuan tanpa batas itu selalu berisi teristimewanya drama kehidupannya ketika melewati setiap ruas, tidak kurang dengan pohon-pohon bermacam yang awalnya hanya jadi pemandangan biasa, telah dijadikannya bahan pelengkap kisah heroik, ikonik, futuristik, hingga sangat spesifik untuk bermacam sisinya, khas taman menurutnya menyimpan keunikan hingga dapat dikisahkannya laksana kisah pesona menara sehingga bergaya Prancis, bukan hanya tingginya, besarnya namun juga bahan hingga sejarahnya dikisah selengkap ia mampu memukau banyak orang. Hingga tiada yang sadar semua laku itu telah membawa semua memutari tempat yang aman dan kering hingga terjauh dari kelicinan yang mungkin dapat menggelincirkan hingga terjerembab dan terpisah dari mereka yang bersama.

Promo enaknya adegan: Jalan lebar usai tiada diingkarinya matanya telah sempat menoleh pada kemolekan lintasan setapak yang tidak jauh dari keberadaannya,
lebar jalan nan mulus dan dirancang bagi pengguna dihindarinya untuk memilih berjalan-jalan dari seberang koridor menjadikannya melihat sudut lain, dimana tidak semua orang tahu akan sumber keadaan yang disinyalir menimbulkan gelombang decak kagumnya bagaimana semua diramu...
Kemudaan punya manisnya sendiri sama halnya kelegitan dan kenyalnya kematangan alami buah dipisahkan penyortir cekatan hingga sampai pada penyaji terbaik dengan menambahkan senyumannya tak pelak semakin... mengundang ☺😜😝👹👸


Thursday, June 27, 2024

makatak: Cepat atau Lambat

makatak: Cepat atau Lambat: Surat kepada La yang  Mereka semua tahu ada yang punya hak  Mereka juga punya  Ada tujuan menutupi kemaluaanya  Biar tidak melorot dan jelas...

Wednesday, May 29, 2024

an adventure in or ever the pAst...

Suatu masa yang terlukis dalam
Semburat mengisi dinding semu pembaringan
Seolah jawaban dari semua guyuran tanya
Setebal membubungnya nuansa pikir malam
Terisi oleh pengaruh pengalaman melintasi
Tanda torehan titik jenuh ditebar aroma musuh
Walau senyatanya hanya permusuhan muatan
Dari selera kecil memadu bedakan
selera dari jumlah warna silih berganti......
hingga membuncah    ====


Membawanya serta juga yang lain
sebagai bagian gambaran
mungkin dikatakan orang lain terbalik
Membawanya hingga sampai ke sana
adalah kemungkinan yang mampu untuk ditempuh
tentu bukan hanya pada letak 
yang dengan mudah dibilang jauh
Senyatanya ada diatas mesin pemutar tanpa perlu digambar
setiap pergerakan yang mengangkat dan membawa yang diatasnya
melewati setiap gelombang dan cekungan jalan berbatu juga beraspal
hingga perbatasan demi perbatasan yang awalnya selalu ditanyakan
saat yang dibawa dipenuhi keraguan tanya bukan karena nama
juga akan kemampuan hingga daya tahan
bagaimana terkecilnya keadaan itu jadi bagian...
menyertakan semua kebesaran diatasnya
ada dalam suasana baru dan jauh dari perhelatan umum di tempatnya
tempat dimana semua mata disana akan memandangi satu-persatu
menempatkan yang dibawanya pada keterasingan, mampukah dilaluinya....
permulaan mungkin memualkan kemampuan tadah dalam guncangan itu
terus menerusnya himpitan demi himpitan kedudukan yang kian mendekat
juga dimiliki oleh mereka yang memancarkan mata 
dengan seolah 
kian jadi terpana juga bebas dari gambaran perasaan nafas merana.

Monday, September 4, 2023

The "Suspicion"

 

They didn't find anything between them Because they were filled with suspicion Of being incapable of someone They didn't really know.

They were afraid to open up For fear of being hurt So they kept their distance And never let their guard down.

They were afraid to let go And give themselves completely So they held back And never truly connected.

And so they missed out On the possibility of love Because they were too afraid To take a chance.

But maybe one day They'll learn to let go of their fears And open up their hearts To the possibility of love.

Until then, they'll remain Separated by their suspicion And never know what could have been.